PERCIKAN PEMIKIRAN HADIS: Kajian Tiga Tokoh

 

 

Judul               : PERCIKAN PEMIKIRAN HADIS: Kajian Tiga Tokoh

Penulis             : Dr. Muhammad Anshori, M.Ag.

Editor              : Dewi Ratnawati

Tebal buku      : xvi + 176  halaman

Ukuran            : 15,5 x 23 cm

Kertas              : HVS 80 Gram BW

Tahun terbit     : Juni 2026         

Penerbit           : Trussmedia Grafika

ISBN               : Proses Pengajuan ISBN

 

SINOPSIS

Buku ini membahas tiga tokoh dalam studi hadis, yaitu al-Munżirī (w. 656 H./1258 M.), as-Suyūī (w. 911 H./1505 M.), dan Mahfuz Tarmasi (w. 1920). Dua ulama dari Mesir dan satu dari Nusantara atau Indonesia. Banyak orang Indonesia belajar ke Mesir sehingga mata rantai keilmuan dua negara ini terus bersambung. Pada awalnya, silsilah keilmuan ulama Nusantara bersambung ke Haramain (Makkah-Madinah). Banyak ulama Nusantara yang menjadi “guru besar” dan menghasilkan “karya besar” ketika tinggal di Makkah. Pamor ulama Indonesia tidak kalah dengan ulama-ulama yang berasal dari negara-negara Arab. Azyumardi Azra (w. 2022) dalam bukunya, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII menjelaskan bahwa masa ini sebagai asal usul pembaruan di Nusantara sampai sekarang.

Jika selama ini kajian hadis lebih banyak berorientasi pada ulama Timur-Tengah atau dunia Arab secara umum (Mesir misalnya), maka buku ini menawarkan ulama Nusantara sebagai tokoh yang perlu diapresiasi. Meskipun buku ini mengkaji kitab (at-Targīb wa at-Tarhīb, al-Jāmi’ a-agīr , dan Manhaj Żawī an-Naar), tetapi dalam analisisnya juga mengkaji pemikiran hadis yang banyak dikaji di Perguruan Tinggi. Pembaca akan menemukan diskusi yang menarik, bahkan bisa sebagai renungan kajian hadis yang selama ini masih “datar”. Penulisan buku ini sebagai upaya pengembangan kajian hadis dalam dimensi lain sekaligus merawat tradisi menulis di perguruan tinggi. Tradisi membaca, menulis, dan meneliti telah dilakukan oleh-ulama terdahulu, termasuk ulama Nusantara. Karena itu, para pengkaji, peminat, dan peneliti hadis sekarang, perlu meningkatkan tradisi tersebut di perguruan tinggi dan di pesantren. Membaca dan menulis merupakan bagian dari ibadah sehingga perlu ditingkatkan. Jika ulama terdahulu meriwayatkan dan menulis hadis, maka generasi sekarang harus mengkaji hadis Nabi sebagai bagian ketersambungan sejarah. Percikan Pemikiran Hadis: Kajian Tiga Tokoh, demikian judul buku ini. Semoga pembaca mendapat percikan dan pencerahan dari tiga tokoh tersebut. Selamat membaca.


OlderNewest

Post a Comment